Berita Lintas
sawitbaik

GAPKI Ajak NGO Menata Rantai Pasok Sektor Kelapa Sawit, Pastikan Tak Ada Pekerja Anak



GAPKI Ajak NGO Menata Rantai Pasok Sektor Kelapa Sawit, Pastikan Tak Ada Pekerja Anak

InfoSAWIT, JAKARTA - sejak tahun 2002 oleh International Labour Organisation (ILO) -organisasi buruh dunia- ditetapkan sebagai Hari Dunia Menentang Pekerja Anak. Menjadi hari penting bagi masa depan jutaan anak bangsa dan negara. Merujuk data dari ILO, terdapat 152 juta pekerja anak di seluruh dunia. Bahkan disaat pandemi covid-19 membuat resiko peningkatan pekerja anak makin besar meningkatnya angka kemiskinan baru dari orang tua yang kena PHK.

Diakui atau tidak, Indonesia juga memiliki tugas besar guna menuntaskan terkait permasalahan pekerja anak. Data Kemenaker menyebutkan mayoritas terjadi di sektor informal. Dalam diskusi online yang diselengarakan Kementerian Tenaga Kerja RI, Bappenas dan ILO.

Kata Ketua Bidang Ketenagakerjaan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Pusat, Sumarjono Saragih, belum lama ini perusahaan perkebunan kelapa sawit Indonesia kerap dituduh memperkerjakan anak-anak.

Bersyukur tuduhan itu bisa terbantahkan, lantaran aktivitas perkebunsan kelapa sawit relatif berat dan tidak mungkin dilakukan anak-anak. “Juga berdasarkan hukum negara sangat dilarang dan ada ancaman pidana bagi yang melakukannya. Sebuah tindakan keliru bahkan bunuh diri bila ada perusahan sengaja melakukannya,” kata Sumarjono, dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT, belum lama ini.

Namun demikian Sumarjono tetap mengingatkan bahwa sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia bukan hanya anggota GAPKI, sebab ada rantai pasoknya. Bahkan 42% perkebunan kelapa sawit di Indonesia dikelola petani.

“Oleh karena itu kita mengajak NGO kerja bersama, menata rantai pasok perkebunan kelapa sawit, sekaligus melakukan upaya bersama sehingga tidak ada lagi tuduhan keliru tersebut,” katanya.

Perlu dipahami, anak adalah masa depan negara bangsa, juga masa depan kelapa sawit Indonesia. Bahkan ada banyak praktik baik dan fasilitas yang dibangun di perkebunan sawit untuk kepentingan anak, seperti tempat penitipan anak, tempat bermain bahkan pendidikan dan pelayanan kesehatan.

“Terbukti ditengah pandemi covid-19 sawit menjadi solusi. Bukan hanya solusi pangan, energi dan ekonomi. Sejauh ini tidak ada PHK (orang tua anak). Sehingga tidak ada penganguran dan kemiskinan baru yang menjadi salah satu penyebab adanya pekerja anakl,” tandas Sumarjon. (T2)