InfoSAWIT, JAKARTA – Paska menyebarnya wabah pandemi virus korona (Covid-19) sedikit banyak telah mempengaruhi ekonomi dunia, tidak terkecuali berdampak juga pada perdagangan minyak sawit global. Dikatakan Ketua Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS), Rusman Heriawan, pada periode Januari-April 2020 lalu pasar minyak sawit di China tercatat melorot tajam, kondisi ini akibat dari munculnya wabah covid-19 di negeri Tirai Bambu tersebut.
“Sementara pada periode yang sama negara-negara konsumen minyak sawit Indonesia lainnya masih tercatat normal, ini lantaran negara-negara konsumen pada periode tersebut belum terpapar wabah pandemi covid-19,” katanya dalam sebuah diskusi online yang dihadiri InfoSAWIT, Senin (15/6/2020).
Namun demikian lebih lanjut kata Rusman, untuk periode Mei-Desember 2020 perlu diwaspadai, lantaran pada periode tersebut, negara-negara yang selama ini menjadi pasar tradisional minyak sawit Indonesia mulai terpapar wabah pandemi covid-19, dampaknya permintaan di negara-negara tersebut diperkirakan akan menurun. “Kondisi ini akan berbanding terbalik dengan China yang akan mulai meningkatkan permintaan minyak sawitnya, sementara negara lain akan menurun permintaannya,” catat Rusman.
Sebab itu kata dia, menjaga pasar ekspor minyak sawit supaya tidak terus melorot akibat pandemi covid-19 perlu dilakukan, salah satunya dengan terus memerhatikan sentimen negatif terhadap minyak sawit yang selama ini masih terus berlangsung.
Termasuk mulai melihat peluang dalam upaya peningkatan pasar di China, India dan Pakistan. Lantaran ketiga negara ini masih mementingkan harga minyak sawit lebih ekonomis ketimbang melihat isu lingkungan.
“Sebab itu butuh kejelian pemerintah dalam melihat kondisi ini, jangan sampai perjanjian bilateral berakhir pada tertutupnya pasar minyak sawit seperti yang telah terjadi dengan imbal dagang jeruk kino dari Pakistan, atau masalah imbal dagang gula dan kerbau dari India,” tandas Rusman. (T2)







