Pasar bebas ASEAN, sudah diterapkan. Sejatinya stakeholder perkebunan kelapa sawit sudah mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk kebutuhan tenaga kerja ahli di sektor hulu-hilir.
Tahun 2015 ini Indonesia memasuki tahun kritis baik dari sudut politik, dimana pemerintahan baru sedang mengawali program-program yang ambisius termasuk tol laut dan revolusi mental, sementara dari sudut ekonomi tahun ini pula Indonesia dihadapkan pada era keterbukaan Masyarakat Ekonomi Asean khususnya, plus India dan China.
Dimana pada masa itu Indonesia tidak lagi bisa mengenakan “barrier-barrier” untuk mencegah masuknya tenaga-tenaga ahli dari negara-negara ASEAN termasuk juga India dan Cina, siapkah Indonesia berkompetisi dengan expatriat-expatriat Asia yang bakal menyerbu pasar tenaga kerja industri di Indonesia yang sangat potensial ?
Diakui atau tidak negeri ini sangat kaya bahan baku dari alam, termasuk gas, mineral, perkebunan dan pertanian, dan untuk mendapatkan produk dengan nilai tambah tinggi diperlukan proses lebih lanjut. Teknologi bisa didatangkan tetapi untuk mengoperasikan teknologi manufaktur diperlukan tenaga-tenaga ahli spesialis masing masing dibidangnya.
Kita memang sudah memiliki tenaga spesialis seperti welder atau tukang las, tetapi besarnya kebutuhan dibandingkan dengan ketersediaan tenaga welder belum seimbang. Begitu pula dengan tenaga kerja operator pabrik, tenaga kerja pertambangan, energi, power plant dan sebagainya, ketersediaan tenaga ahli menengah di sektor-sektor tersebut masih sangat terbatas.
Begitu juga dengan sektor industri berbasis minyak sawit dari kebun sampai dengan industri hilir, masih banyak dibutuhkan tenaga ahli manajemen, quality control serta product development.
Contohnya, Indonesia bisa memproduksi biodiesel kategori premium untuk konsumen negara-negara empat musim, yang notebene memerlukan minyak dengan titik beku dibawah nol, begitu pula produk-produk detergent dan perawatan badan yang setiap saat berubah dan berkembang berdasarkan kebutuhan yang juga terus berkembang.
Sektor tenaga ahli inilah yang akan diisi oleh tenaga expatriat dari berbagai negara maju, sementara kekurangan tenaga ahli menengah akan banyak diisi oleh tenaga kerja spesialis dari ASEAN termasuk dari India dan Cina.
Tahun ini menjadi tahun implementasi investasi dibidang industri hilir pengolahan minyak sawit termasuk fatty acid, fatty alcohol, biodiesel, sabun dan surfactant. Melihat besarnya produksi CPO tahun ini yang diatas 25 juta ton, sementara produk olah lanjut hampir tidak berubah sekitar 25 % saja, dimana sisanya masih dijual sebagai minyak kasar alias CPO.
Industri ini sudah berumur ratusan tahun dan sudah saatnya . . .









