Berita Lintas
sawitbaik

SUSTAINABILITY DITENGAH RENDAHNYA HARGA CPO



Penerapan praktik berkalanjutan (sustainability) sejatinya tetap dilakukan dalam setiap kondisi. Disamping hadirnya dukungan pemerintah pusat dan daerah, sehingga penerapan praktik berkelanjutan bisa lebih maksimal.

Kendati masih dibayang-bayangi terus berlanjutnya tren melemah harga CPO di pasar dunia, nampak ada secercah harapan harga jual CPO bakal kembali membaik, ini dipicu oleh fenomena perubahan cuaca serta ancaman badai El Nino dikawasan Asia Tenggara.

Akibatnya harga mulai merambat naik dari US$ 610/ton pada awal 2015 silam menjadi sekitar US$ 630/ton sampai US$ 640/ton, untuk pengiriman di bulan Agustus 2015. Naiknya permintaan biodiesel pun mulai memberikan dampak positif akan kembalinya harga minyak nabati ke level yang lebih tinggi lagi. Dari sisi pendapatan petani tentu saja kondisi demikian mendorong harga Tandan Buah Segar (TBS) ikut terkerek naik, yang berarti petani menjadi lebih sejahtera.

Sementara dari sudut lingkungan membaiknya harga CPO justru menjadikan petaka dengan kemungkinan maraknya kembali isu lingkungan dan meluasnya upaya perambahan hutan oleh masyarakat, sehingga membuka potensi rusaknya keanekaragaman hayati hutan hujan tropis dengan lebih cepat.

Dalam kondisi harga minyak sawit “bagus”maka Permentan No. 11 Tahun 2015, yang menjadi fademekum pekebun sawit besar dan kecil yang lebih dikenal sebagai basis implementasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil),  perlu dilakukan penguatan berupa penegakan hukum, agar fenomena pembabatan dan pembakaran hutan tropis dan lahan gambut dapat ditekan dan diminimalisir.

Komitmen pemerintah sebetulnya cukup tegas dan jelas dalam mengambil kebijakan tentang lingkungan dan perlindungan hutan, termasuk meneruskan moratorium hutan yang telah diawali oleh Presiden SBY pada tahun 2011 silam. Tetapi dari waktu ke waktu pembakaran hutan primer dan pembukaan areal lahan gambut masih saja terjadi, dan seolah terjadi pembiaran oleh pemerintah.

Sebab itu sudah selayaknya . . .