Berita Lintas
sawitbaik

UNFAIR GAME



UNFAIR GAME

Harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit ikutan rontok selepas harga CPO melemah, hanya saja bersamaan rupiah melemah terhadap dollar AS, sejatinya harga TBS tidak anjlok begitu dalam, unfair game pun terjadi.

Tahun ini bisa jadi masa sulit bagi pelaku industri nasional, Lantaran setiap hari nilai tukar Dollar Amerika Serikat (AS) perlahan acap merambat naik, puncaknya pada September 2015, dimana Rupiah melemah hingga Rp 14.000 per satu Dollar. Sebagian besar rakyat Indonesia kemungkinan tidak tahu persis apa yang sudah dilakukan pemerintah untuk mencegah semakin terpuruknya nilai tukar Rupiah.

Hanya saja di lapangan, kondisi itu telah memicu semua harga kebutuhan hidup sehari-hari melonjak naik, imbas dari pasokan konsumsi penduduk Indonesia masih sangat banyak di dapat dari impor, seperti beras, gula, daging, pakaian, elektronik serta kendaraan bermotor. Mau tidak mau, suka ataupun tidak maka harga-harga kebutuhan pokok bakal dipengaruhi fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS.

Pemerintah melalui siaran resminya kerap mengatakan bahwa pondasi ekonomi Indonesia masih kuat dan belum krisis, tetapi dilain pihak kalangan industri telah siap-siap melakukan pengurangan karyawan, bahkan ada yang bakal menyetop produksi dan gulung tikar bila kondisi ekonomi semakin memburuk. Pemerintah selalu mengatakan bahwa gonjang-ganjing moneter bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi hampir melanda sebagian besar dunia khususnya di Eropa dan seluruh negara-negara di kawasan Asia. 

Lantas  apa dampak paling buruk terhadap industri yang berorientasi ekspor seperti minyak sawit dan turunannya? Tidak diragukan lagi bahwa industri berbasis minyak sawit adalah Dollar earner nomor wahid diluar ekspor minyak dan gas bumi. Namun apakah industri ini mendapatkan competitive advantage dari menguatnya Dollar terhadap Rupiah? Semestinya “iya” lantaran transaksi industri ini sebagian besar menggunakan Dollar.

Jelas dengan . . .