Pelonjakan harga CPO di duga telah mendorong peningkatan pembukaan lahan untuk sawit, sehingga banyak pihak menuding sawit sebagai biang terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Namun faktanya, tatkala harga CPO tergerus nyatanya kebakaran hutan dan lahan tetap tinggi, jadi apakah masih yakin kebakaran akibat sawit?
Saya sedang mencoba untuk memahami fenomena fluktuasi harga minyak sawit kasar di pasar ekspor dan dampaknya terhadap situasi domestik, khususnya perilaku industri perkebunan kelapa sawit baik yang besar maupun yang kecil, bagaimana dampaknya tatkala situasi harga CPO sedang tinggi atau sebaliknya.Pastinya industri selalu melakukan reaksi dalam kondisi demikian.
Kedua kelompok industri , baik kecil maupun besar, memiliki euphoria sama, semenjak tahun 2015 sampai mendekati bulan kedua 2016, harga minyak sawit betul-betul terpuruk mencapai US$ 600/ton di pasar Eropa, maka industri perkebunan kelapa sawit pun diindikasikan mencoba menutup kerugian dengan membuka lahan kebun baru dalam menutup defisit.
Sampai sebelum membaiknya harga CPO di pasar ekspor, industri melakukan ancang-ancang guna melakukan segala hal yang diperlukan dalam meningkatkan produksi CPO, misalnya saja dengan mencari lahan baru untuk peningkatan produksi.
Apakah kemudian pola demikan terus berlangsung di industri kelapa sawit nasional? Faktanya tidak seperti dalam praktiknya, lantaran ketika harga CPO tergerus, kajadian kebakaran hutan dan lahan tetap tinggi terjadi. Sementara sebagian pelaku mulai mengerem pembukaan lahan.
Sementara itu pada tahun 2015 silam menjadi tahun dengan kejadian kebakaran hutan dan lahan yang cukup masif, dimana hampir semua provinsi di Sumatra, Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Halmahera dan Papua terjadi kebakaran hutan dan lahan gambut.
Kerugian materil dan non materil tidak terhitung besarnya, bahkan beberapa korban penduduk khususnya bayi dan anak-anak yang tinggal diwilayah terjadinya kebakaran sangat menderita kesehatannya.
Untuk mencegah kejadian kebakaran berulang tindakan pencegahan dan hukuman tegas dilakukan, seperti pada awal tahun 2016, sudah diketemukan puluhan titik panas di Sumatera, karena masih relatif kecil dan baru awal maka masih dapat dikendalikan dan akhirnya dimatikan.Para oknum pembakar lahan pun banyak yang sudah ditangkap.
Cukupkah dengan tindakan . . .









