Sejak awal dekade 90’an Pemerintah telah bermimpi memiliki klaster industri termasuk diantaranya klaster industri berbasis minyak sawit, sayangnya pertumbuhan klaster industri tersebut tercatat masih lamban, seab itu butuh kerjasa apik antara pemerintah dan pelaku.
Antusias membangun industri minyak sawit dan turunannya memang tinggi khususnya di sektor hulu karena demand minyak sawit alias CPO terus meningkat dari tahun ke tahun, hingga dekade pertama tahun 2000 pertumbuhan sektor hulu (perkebunan) sangat tinggi bahkan diatas 10% setiap tahun.
Sementara, industri turunan minyak sawit walaupun ada pertumbuhan tetapi sangat lamban bahkan hanya menyerap sekitar 5 – 10% saja dari total produksi CPO Indonesia setiap tahunnya. Bahkan sampai dengan hari ini, industri hilir minyak sawit belum bisa dianggap tumbuh ideal dan linier seperti sektor hulu sawit yang masih terus tumbuh dengan ekspor CPO yang masih mendominasi profil ekspor minyak sawit Indonesia.
Di Sumatera, utamanya di Riau merupakan penghasil CPO tertinggi di Indonesia, lebih dari 5 juta ton CPO keluar dari provinsi ini setiap tahun dan yang menggembirakan adalah bahwa mimpi pemerintah untuk memiliki klaster industri terjawab di provinsi ini. Industri hilir minyak sawit baik untuk menghasilkan produk berbasis edible (refinery minyak & lemak makanan), non edible (oleokimia) serta bahan bakar nabati (biodiesel) tumbuh dengan baik di provinsi Riau, khususnya di sekitar Kota Dumai disepanjang selat Rupat, tepat diseberang semenanjung Malaka, Malaysia.
Mengapa justru klaster . . .










