Meningkatnya kebutuhan minyak nabati di dunia, sontak mendorong bertumbuhnya industri minyak nabati di dunia. Jelas kebutuhan minyak nabati tidak bisa ditawar, lantaran bakal terus mengikuti pertumbuhan populasi di dunia dan bergesernya kebutuhan sumber energi ke energi ramah lingkungan berbasis nabati.
Tentu saja kondisi demikian mendorong meningkatnya perluasan lahan penghasil minyak nabati. Pertumbuhan perluasa lahan itu nampak semenjak era 1980 an, dan terus meningkat sampai saat ini.
Merujuk informasi dari Oil World, total areal penghasil 10 minyak nabati di dunia tahun 2012 silam telah seluas 258,9 juta hektar (ha). Kemungkinan luasan lahan itu bertambah masih sangat terbuka. Sebab itu dibutuhkan teknologi breeding (pemuliaan tanaman) guna menghasilkan bibit dengan produktivitas tinggi. Sehingga perluasan lahan penghasil minyak nabati bisa diperlambat. Dari 10 komoditas penghasil minyak nabati di dunia, komoditas kelapa sawit memiliki produktivitas paling tinggi disusul rapeseed, bunga matahari dan kedelai.
Dalam buku Handbook of Plant Breeding, Oil Crops, terbitan Springer, memberikan gambaran upaya peningkatan produktivitas komoditas penghasil minyak nabati, melalui teknologi pemuliaan. Namun demikian teknik pemuliaan nampaknya harus juga didukung oleh sumber plasma nutfah nya, sehingga bisa didapat bibit yang sesuai dengan keinginan.
Dalam buku setebal 548 itu, memang tidak hanya membahas pemuliaan untuk komoditas kelapa sawit saja, namun pula membahas teknik pemuliaan untuk komoditas minyak nabati lainnya. Sehingga didapat informasi pemuliaan tanaman yang komprehensif, untuk pemuliaan tanaman masing-masing komoditas minyak nabati. q Atep Y










